perjuangan porter stasiun miris

Covid-19 Melonjak, Mereka yang Bergantung Pada Upah Seikhlasnya, Tak Lagi Bisa Beli Makan…

Stasiun kereta api menjadi saksi bisu perjuangan hidup para porter yang selalu sedia membawakan barang bawaanmu.

Kini, tak terlihat lagi hiruk-pikuk keramaian stasiun, karena tak ada penumpang yang hilir mudik keluar kota, tak ada penumpang yang bisa dibawakan barangnya = tak ada upah yang bisa mereka terima.

SEDIH! Stasiun Sepi, 8 dari 10 Porter Hanya Membawa Uang 20rb dalam Sehari

“Mas, barangkali ada barang yang bisa saya bantu?”

“Gak apa-apa pak, saya bisa bawa sendiri”

“Bu, mau saya bantu bawain?”

“Oh, gausah pak, saya pakai trolley aja”

“Mba, mau pakai jasa saya?”

“Wah kebetulan banget pak, tolong bawain ini ya!”

“Alhamdulillah”

Begitulah sulitnya para porter di Stasiun Kereta Api Bandung dalam mencari orang yang mau menggunakan jasanya. Semenjak pandemi melanda setahun silam, stasiun tempat mereka bekerja kini lebih sepi.

Diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM sejak tanggal 3 Juli 2021 di pulau Jawa dan Bali sampai sekarang, tidak sepenuhnya memberikan solusi terbaik bagi para rakyat kecil.

“Buat hidup ya dari sini, kami selalu berdoa semoga Allah memberikan kami rejeki setiap harinya, 20 ribu udah syukur alhamdulillah, yang penting anak istri bisa makan.” 

Dari kehidupan para porter kita bisa belajar bersyukur. Bagaimana mereka tetap sabar dan menjalani pekerjaannya demi menghidupi keluarga di rumah. Upah 20 ribu yang mungkin sedikit bagi kita, ternyata bernilai besar untuk mereka, para porter stasiun. 

Yuk kita apresiasi perjuangan mereka dan rasa syukur yang mereka ajarkan kepada kita.


perjuangan porter stasiun miris

Sisa Waktu
56 Hari lagi
Terkumpul/Target
90.000/ 100.000.000
0%
 
Donasi Sekarang

Cek Status Pembayaran

Bagikan Program ini

Program Lain