
Bantu Ani Sembuh dari Epilepsi dan Cerebral Palsy
“Sudah 12 tahun Ani kejang-kejang seperti ini, sehari bisa sampai 5 kali. Sejak didiagnosa epilepsi dan lumpuh otak, ayahnya juga pergi meninggalkan kami, Pak…”, ucap Bu Asih, orang tua Ani sambil menahan isak tangis.
Malang tak dapat ditolak, begitulah keadaan Ani saat ini. Meski setelah mengetahui penyakitnya 12 tahun lalu, sang ayah pergi meninggalkan Ani dan Ibunya. Bu Asih, selaku orang tua satu-satunya yang dimiliki Ani tidak mau berhenti menyerah.
Bu Ani yakin, suatu hari Ani bisa sembuh dan bisa ia bawa berobat. Bu Ani bekerja keras sebagai pembantu rumah tangga dari rumah ke rumah. Bahkan, Bu Ani juga selalu membawa anaknya bekerja setiap hari, ia gendong terus karena Ani tidak berdaya dan harus selalu dijaga.
“Kalau saya kerja, pasti saya bawa, saya gendong. Kalau tidak, siapa yang jaga Ani? Sedangkan dia selalu kejang-kejang..”, tutur Bu Asih.
“Jujur, saya nggak tega sebetulnya lihat Ani seperti ini, dia pasti capek kejang-kejang terus. Sekarang Ani juga nggak bisa berbicara…”, isak Bu Asih.
Upahnya sebagai pembantu rumah tangga tidak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, Bu Ani terus menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya agar bisa terus membawa Ani berobat. Setidaknya, ia bisa membelikan madu untuk Ani agar daya tahan tubuhnya tetap kuat.
Sahabat, di tengah keterbatasannya Bu Asihi tetap semangat dan tidak pernah menyerah untuk membawa Ani, anak satu-satunya berobat.
Maukah Sahabat membantu Ani berjuang melawan epilepsy dan lumpuh otaknya dengan temani berobat jalan hingga operasi sarafnya?
-
June, 26 2024
Campaign is published